Berkat BRI, Kebab Endul Sukses Raup Rp100 Juta Per Bulan

ilustrasi(MI/Insi Nantika Jelita)

Di sebuah kios sederhana di Jalan Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat, menjadi saksi perjalanan panjang Kebab Endul. Di balik usaha yang kini mampu meraup omzet  ratusan juta rupiah per bulan itu, ada cerita jatuh bangun Aisyah Ratna Wulandari yang dulu memulai tanpa bekal pengetahuan bisnis yang memadai.

Aisyah mengingat betul masa-masa awal ketika usaha hanya dijalankan dengan insting bertahan hidup. Saat pandemi melanda, pekerjaan suami hilang, kantin sekolah tutup, dan kondisi keluarga ikut terguncang. Di tengah situasi itu, ia mencoba peruntungan dari produk kebab beku atau frozen yang awalnya hanya dipasarkan ke lingkaran terdekat. 

“Dulu saya benar-benar buta soal keuangan, yang penting barang laku,” ujarnya saat ditemui di kios Kebab Endul pada pekan lalu. 

Perlahan, jalan usaha mulai berubah ketika ia bergabung dengan Rumah BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Jakarta. Di sana, Aisyah mulai mengenal istilah yang sebelumnya terasa asing, yakni harga pokok penjualan (HPP), arus kas, hingga strategi harga. Dari sekadar bertahan, ia mulai merancang pertumbuhan. Perubahan itu menjadi titik balik Kebab Endul hingga meraup Rp100 juta per bulan.

Jeli Melihat Peluang

Sebelum pandemi, suami Aisyah bekerja di sebuah sekolah dasar, sementara dirinya mengelola kantin sekolah dasar. Namun ketika pandemi melanda, sang suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kantin sekolah yang dikelolanya terpaksa tutup. Situasi tersebut semakin berat karena anak mereka yang memiliki kelainan jantung harus menjalani operasi. Setelah kondisi anaknya membaik, Aisyah memutuskan memulai usaha sebagai cara bertahan hidup.

“Jadi setelah anak saya operasi, saya mulai usaha. Karena jatuhnya kita itu bukan hanya secara materi, tapi juga mental,” ungkap perempuan berusia 32 tahun itu.

Peluang usaha datang ketika suaminya bekerja di pabrik kebab frozen setelah terkena PHK. Aisyah kemudian meminta izin untuk menjual produk kebab frozen dengan mereknya sendiri melalui skema maklon. Dalam waktu sekitar lima bulan, usahanya mulai berkembang dan memiliki sejumlah reseller.

Menurut Aisyah, langkah awal membangun usaha dilakukan dengan memanfaatkan jaringan terdekat dan melihat peluang yang ada di sekitar.

“Kita harus jeli melihat peluang-peluang yang ada. Memang, alhamdulillahnya, saya punya akses yaitu dari kantor suami saya,” katanya.

Aisyah mulai memasarkan produk melalui WhatsApp kepada para kenalan dan orang tua murid. Saat itu, masyarakat membutuhkan makanan praktis yang bisa disimpan dan mudah disajikan di rumah. Produk pertama yang dijual adalah kebab frozen seharga Rp40 ribu per kotak berisi 10 potong.

“Responnya bagus banget karena mereka merasa memang itu dibutuhkan,” tuturnya.

Perluas Pemasaran

Seiring meningkatnya permintaan, Aisyah mulai memproduksi sendiri dengan modal awal sekitar Rp5 juta. Ia kemudian memperluas jaringan pemasaran melalui reseller atau mereka yang menjual kembali produk yang diperoleh dari Aisyah. Hingga kini, sistem reseller menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan bisnisnya.

“Dan reseller itu rata-rata teman-teman saya juga yang sudah merasakan enaknya Kebab Endul,” katanya.

Sistem yang diterapkan menggunakan skema diskon. Reseller memperoleh potongan harga sekitar 5% dari harga jual dan besaran diskon meningkat seiring volume penjualan.

“Diskon itu mungkin bisa dibilang fee, seperti affiliate,” jelasnya.

Saat ini, Kebab Endul memiliki sekitar 250 reseller yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek hingga Makassar. Selain itu, usaha tersebut juga membuka peluang kemitraan bagi reseller yang ingin membuka outlet sendiri.

Pendampingan Rumah BUMN BRI

Meski usaha sudah berjalan sejak 2020, Aisyah mengaku baru mulai memahami bisnis secara lebih profesional setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada akhir 2023. Selama tiga tahun pertama, ia menjalankan usaha secara otodidak tanpa memahami perhitungan harga pokok produksi (HPP), manajemen keuangan, maupun strategi bisnis jangka panjang.

“Dulu awalnya bertahan hidup saja. Yang penting laku dan dapat untung,” katanya.

Di Rumah BUMN BRI, Aisyah mendapatkan berbagai pelatihan dan pendampingan yang membantunya memahami pengelolaan usaha. Latar belakang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan minimnya pengetahuan bisnis sempat membuatnya merasa minder dibanding pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lainnya.

“Rasanya semua terbatas, sehingga aku merasa insecure dengan teman UMKM lainnya yang latar belakangnya lebih bagus,” ujarnya.

Manajemen Keuangan

Namun, ia memilih untuk terus belajar karena berbagai fasilitas pelatihan dari Rumah BUMN BRI tersedia secara gratis dan mudah diakses. Ia menilai pelatihan tentang manajemen keuangan sebagai hal yang sangat penting dalam perjalanannya.

“Pembahasan mengenai manajemen keuangan sangat krusial bagi saya karena dulu saya benar-benar buta soal keuangan,” ujarnya

Namun, ia memutuskan untuk terus belajar karena berbagai fasilitas pelatihan tersedia secara gratis dan mudah diakses. Topik pelatihan soal manajemen keuangan dianggap krusial banget menurut aku. Dulu tuh aku benar-benar buta banget masalah keuangan,” katanya.

Sebelum mengikuti pelatihan, Aisyah mengaku hanya memahami konsep sederhana bahwa hasil penjualan dikurangi belanja berarti keuntungan. Padahal, ketika usaha berkembang dan mulai merekrut karyawan, sistem tersebut tidak lagi memadai.

“Nah, akhirnya boncos. Dari situ lah aku benahi sistem keuangan dari nol berkat pelatihan Rumah BUMN BRI oleh mentor yang dihadirkan,” terangnya.

Pelatihan manajemen keuangan membantu Aisyah mengatur arus kas, menghitung HPP secara tepat, menentukan harga jual yang kompetitif, hingga menyusun laporan keuangan digital.

Omzet Naik Lima Kali Lipat

Perbaikan manajemen keuangan terbukti berdampak signifikan terhadap pertumbuhan usaha. Jika sebelumnya omzet hanya berkisar Rp20 juta per bulan, kini omzet tertinggi dapat mencapai Rp100 juta per bulan. Angka tersebut naik lima kali lipat. 

“Sebelum ada pelatihan dari Rumah BUMN BRI, palingan omzet kita sekitar Rp20 juta per bulan. Setelah itu meningkat, sekarang kita sudah bisa paling besar sampai Rp100 juta,” beber Aisyah.

Peningkatan tersebut tidak hanya datang dari penjualan langsung melalui reseller, tetapi juga dari perluasan jalur distribusi. Kini, produk mereka mulai masuk ke berbagai jaringan ritel dan kanal usaha yang lebih besar.

Saat ini Kebab Endul tidak hanya mengandalkan jaringan reseller, tetapi juga telah memasok produk ke sejumlah swalayan dan jaringan usaha kuliner di Bekasi, seperti K3Mart, Fortuna Swalayan, serta beberapa kafe lokal.

Selain itu, mereka juga mulai memperkuat aspek legalitas dan standar produk. Beberapa proses seperti sertifikasi halal, 

Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), izin

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang sedang berjalan. Sementara sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) juga menjadi target yang perlu segera dipenuhi untuk memperluas pasar secara lebih luas dan berkelanjutan.

Saat ini Kebab Endul tidak hanya mengandalkan jaringan reseller, tetapi juga telah memasok produk ke sejumlah swalayan dan jaringan usaha kuliner di Bekasi, seperti K3Mart, Fortuna Swalayan, serta beberapa kafe lokal.

Selain pelatihan, Rumah BUMN BRI juga membuka akses pasar melalui berbagai pameran dan bazar UMKM. Aisyah mengaku sering mendapat kesempatan mengikuti kegiatan tersebut.

“Memang peran BRI benar-benar sebagai jembatan usaha saya bisa lebih berkembang lebih jauh. Tidak hanya dari pelatihan, tapi juga kita dikasih akses pasar,” ujarnya.

Dalam salah satu bazar yang difasilitasi BRI, Kebab Endul pernah mencatat penjualan hingga Rp15 juta.

Rencana Ekspansi

Untuk mendukung ekspansi usahanya, Aisyah tengah mengajukan tambahan permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp400 juta dengan tenor dua tahun. Fasilitas pembiayaan ini diharapkan menjadi penopang utama dalam memperluas skala bisnis yang saat ini terus menunjukkan pertumbuhan.

Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memperkuat arus kas (cash flow) sekaligus meningkatkan kapasitas produksi. Aisyah menjelaskan, kebutuhan modal kerja kini semakin besar seiring meningkatnya volume produk yang dipasarkan melalui sistem konsinyasi di berbagai swalayan, yang umumnya menerapkan skema pembayaran secara tempo.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kelancaran operasional bisnis. Sistem konsinyasi membuat pembayaran dari mitra ritel tidak dilakukan secara langsung, melainkan harus menunggu periode tertentu sesuai kesepakatan. Akibatnya, perusahaan perlu memiliki cadangan modal kerja yang memadai agar perputaran bisnis tetap terjaga dan proses produksi tidak terhambat.

“Ini yang menjadi pertimbangan saya mengajukan KUR BRI,” terangnya.

Aisyah juga mengungkapkan usahanya berawal dari nol dengan modal yang sangat terbatas. Pada tahap awal, pertumbuhan bisnisnya sempat ditopang oleh investor, namun kerja sama tersebut bersifat sementara dan memiliki batas waktu tertentu.

“Aku kan bangun usaha mulai dari nol banget, dari modal yang sangat-sangat minim. Itu tuh bisa berkembang karena ada investor. Tapi kan kondisi ini enggak terus-menerus ya, pasti ada jangka waktu,” ucapnya. 

Ia menambahkan, pembiayaan melalui KUR BRI diharapkan dapat membuat struktur permodalan usahanya menjadi lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan skema pembiayaan yang lebih stabil, ia berharap tidak lagi bergantung pada sumber pendanaan lain dalam pengembangan usaha.

“Dengan permodalan dari BRI, istilahnya kita enggak membagi keuntungan dengan yang lain juga,” ujarnya.

Tantangan Kenaikan Harga Plastik

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, Aisyah mengaku kenaikan harga kemasan plastik menjadi salah satu beban terbesar yang dihadapi usahanya. Harga wadah plastik yang sebelumnya sekitar Rp39 ribu per pak kini naik menjadi sekitar Rp75 ribu per pak.

Seperti diketahui, lonjakan harga plastik terjadi akibat terganggunya rantai pasok global nafta dan minyak mentah atau bahan baku utama plastik. Kondisi ini dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, utamanya perang antara Amerika Serikat dengan Iran.

“Berasa banget kenaikan harga plastik untuk biaya operasional kami,” jelas Aisyah.

Meski demikian, dampak kenaikan biaya tersebut dapat diminimalkan karena Aisyah telah menerapkan sistem perhitungan harga pokok penjualan (HPP) yang lebih terukur. Ia menegaskan, penetapan harga jual produk kini disusun berdasarkan struktur biaya dan margin yang sehat, bukan semata mengikuti harga pasar.

Ia mengakui, pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran penting dalam pengelolaan bisnis. Pada fase awal pertumbuhan, ketika usaha mulai berkembang, merekrut karyawan, dan membuka toko, ia sempat menetapkan harga terlalu rendah sehingga tidak mampu menutup biaya operasional.

Akibatnya, bisnis justru mengalami tekanan keuangan dan sempat merugi, sehingga ia kemudian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi penetapan harga dan struktur biaya usaha.

Saat ini Kebab Endul memasarkan berbagai produk frozen food, mulai dari kebab mini, kebab daging, hingga kebab bandeng tanpa duri berbahan ikan lokal tinggi protein. Variannya meliputi kebab original, keju, mozzarella, ayam, hingga rendang. Harga produk berkisar dari Rp45 ribu untuk kebab mini hingga Rp80 ribu untuk varian medium dan large.

Inovasi Zero Waste

Seiring meningkatnya produksi, Kebab Endul mulai menerapkan konsep zero waste atau nol sampah sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Inovasi tersebut berawal dari banyaknya sisa pinggiran kulit kebab yang muncul dalam proses produksi. 

Awalnya, sisa bahan tersebut hanya dikonsumsi keluarga atau dibagikan kepada tetangga. Namun pada 2022, Aisyah mengembangkan limbah produksi tersebut menjadi produk baru berupa camilan keripik bernama ChipBab.

Konsep ini lahir di tengah upaya perusahaan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah. Melalui pendekatan zero waste, sisa bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi kini dapat diolah menjadi produk bernilai jual.

“Kulit kebab itu kan ketika produksi selalu ada sisanya. Nah, semakin banyak kita produksi, sisa atau sampah kulit kebab makin banyak. Jadi dalam rangka kepedulian kita terhadap lingkungan, saya buat inovasi itu,” kata Aisyah.

Baginya, inovasi menjadi kunci penting bagi pelaku UMKM untuk bertahan dan naik kelas. Ia pun menekankan setiap usaha pasti akan menghadapi tantangan di setiap fase pertumbuhannya. Sehingga, pelaku usaha didorong untuk giat berinovasi.

“Jangan takut untuk berinovasi. Setiap usaha pasti akan menemukan masalah untuk kita bisa naik kelas. Jadi jangan putus asa ataupun jangan menyerah,” ujarnya.

Konsistensi UMKM

Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana menjelaskan, Kebab Endul telah beberapa kali diikutsertakan dalam pameran franchise yang difasilitasi BRI. Menurutnya, keikutsertaan UMKM dalam pameran maupun bazar menjadi langkah penting untuk memperluas akses pasar.

“Tentunya perluasan akses pasar ini akan sangat berarti bagi UMKM yang baru merintis dan mengembangkan usahanya,” imbuh Jajang.

Ia menambahkan, Kebab Endul kini telah berkembang dengan jumlah cabang yang semakin banyak. Pada awal perintisan, usaha tersebut hanya memiliki dua cabang, namun kemudian tumbuh pesat seiring keterlibatan reseller yang turut membantu perluasan bisnis.

Jajang menilai kunci utama perkembangan UMKM terletak pada konsistensi pelaku usaha dalam mengikuti berbagai program pembinaan. Menurutnya, banyak pelaku UMKM dari daerah yang mampu berkembang lebih jauh ketika terus konsisten belajar dan memanfaatkan pelatihan yang tersedia.

“Seperti Kebab Endul, mereka mendapatkan satu pelatihan yang memang cocok banget buat usaha beliau, yakni manajemen keuangan,” katanya.

Ia menegaskan, edukasi yang diperoleh dari program pembinaan tersebut tidak hanya bersifat teori, tetapi juga dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha. Selain pelatihan keuangan, Kebab Endul juga mengikuti program lain seperti strategi kemitraan hingga berhasil mengembangkan model bisnis berbasis kemitraan.

“Jadi UMKM harus konsisten. Jangan hanya satu kali ikut kegiatan, habis itu berharap dapet perubahan,” terangnya.

Menurut Jajang, perubahan dalam usaha tidak bisa dicapai hanya dengan satu kali pelatihan. Dibutuhkan proses berkelanjutan dan literasi yang kuat agar UMKM benar-benar mengalami peningkatan kapasitas, baik dalam manajemen keuangan maupun perluasan akses pasar. (E-3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Slot Deposit 5k

dewetoto

dewetoto link alternatif

dewetoto link login

Pola Scatter Hitam Mahjong Ways

info slot gacor unik tiap game hanya di sini 2026z
cerita dari demo mahjong wins 3 black scatter peluang x10000 tips trigger bonus cerita menegangkan simbol gold plated di mahjong ways kupas tuntas kunci pecah perkalian besar eksplorasi slot menarik daftar game mirip mahjong ways yang wajib dicoba di fitur demo pekan ini kenapa mahjong ways masih jadi game slot terpopuler di 2026 ini dari pengalaman pribadi pemain mitos di balik scatter hitam mahjong ways apa bedanya dan cara ke maxwin pengalaman pahit manis saat coba dapatkan scatter hitam mahjong ways psikologi 5 fitur rahasia di slot demo mahjong yang jarang diketahui pemain pemula psikologi di balik 5 pola main demo slot mahjong ways yang bantu dapat scatter hitam update 2026 kisah pemain mana mahjong ways paling sering scatter hitam muncul cara main mahjong ways scatter hitam tips menang 2026 scatter hitam mahjong ways scatter hitam mahjong ways scatter hitam mahjong ways scatter hitam mahjong ways scatter hitam mahjong ways scatter hitam mahjong ways
  • slot gacor new member
  • situs slot resmi indonesia
  • rekomendasi slot gacor
  • pola slot gacor hari ini
  • pola mahjong ways hari ini
  • game slot gacor
  • situs resmi slot
  • OLX707 pola mahjong ways
  • OLX707 sugar rush
  • OLX707 sugar rush jp
  • OLX707 pola scatter emas
  • OLX707 trik scatter hitam
  • link bandar toto
  • olx707 link resmi
  • link slot hari ini
  • link situs bandar gacor
  • olx707 link resmi 2026
  • olx707 login daftar 2026
  • slot hari ini
  • link bandar slot
  • olx707 link resmi kami
  • daftar slot gacor
  • link Slot Mudah Maxwin