PENCARIAN tanda-tanda kehidupan di luar Bumi terus berlanjut, dan perhatian para ilmuwan kini tertuju pada mineral tanah liat (clay) di Mars. Mineral ini diyakini menjadi kunci penting untuk menemukan bukti fisik dari kehidupan masa lalu di Planet Merah tersebut.
Badan Antariksa Eropa (ESA) saat ini tengah bersiap untuk meluncurkan robot penjelajah (*rover*) andalan mereka, Rosalind Franklin, dalam misi ExoMars. Berdasarkan pernyataan resmi dari badan antariksa tersebut, robot penjelajah ini ditargetkan mendarat di Oxia Planum. Lokasi ini merupakan sebuah wilayah cekungan di permukaan Mars yang diduga kuat pernah dialiri air dalam jumlah melimpah di masa purba.
Melalui sebuah penelitian terbaru yang memanfaatkan data pengamatan orbit, para ilmuwan menemukan endapan tanah liat yang sangat luas di wilayah tersebut. Lapisan mineral ini membentang hingga radius sekitar 300 kilometer dari titik pendaratan Oxia Planum, bahkan menjangkau wilayah lembah Mars yang disebut Mawrth Vallis.
“Dengan mendarat di Oxia Planum, kita akan mengungkap proses berskala besar yang membentuk tanah liat purba di seluruh Mars,” ungkap Inés Torres Auré, peneliti utama dari Universitas Lyon Prancis dalam pernyataan resminya.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis lapisan batu dan mineral Mars dari orbit menggunakan instrumen OMEGA milik wahana antariksa Mars Express milik ESA serta Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA. Data orbital menunjukkan adanya lapisan mineral yang konsisten dan indikasi perubahan kimiawi air dari waktu ke waktu pada kedua situs tersebut.
Bagi para ilmuwan, keberadaan tanah liat sangat krusial karena mineral ini terbentuk melalui interaksi dengan air berwujud cair. Karena air adalah komponen utama bagi kehidupan, lapisan tanah liat purba ini dianggap sebagai tempat terbaik yang mampu mengunci dan mengawetkan senyawa organik atau bukti biologis kuno dari miliaran tahun lalu.
Ilmuwan proyek ExoMars, Jorge Vago, menjelaskan signifikansi pemilihan lokasi pendaratan ini.
“Kami menargetkan endapan tertua dalam urutan tersebut, yang membuat potensi implikasi bagi geologi dan iklim awal Mars sangat relevan untuk misi Rosalind Franklin dalam pencariannya akan kehidupan,” jelas Jorge Vago dalam pernyataan resminya.
Senada dengan hal itu, Elliot Sefton-Nash selaku wakil ilmuwan proyek ExoMars menambahkan mengenai kondisi lingkungan Mars di masa lampau yang berpotensi mendukung adanya organisme hidup.
“Kehangatan dan nutrisi pada dasar laut Mars purba dapat menyediakan habitat bagi kehidupan awal,” tambah Elliot Sefton-Nash dalam pernyataan tersebut.
Robot penjelajah Rosalind Franklin diproyeksikan meluncur ke Planet Merah pada tahun 2028 mendatang. Robot ini nantinya tidak hanya menjelajahi area permukaan, melainkan juga dilengkapi dengan alat bor khusus. Alat bor ini dirancang untuk menggali dan mengambil sampel tanah hingga kedalaman tertentu di bawah permukaan Mars guna mencari bukti kehidupan mikrob purba yang terlindungi dari radiasi ekstrem. (Space/Z-2)