Kemandirian peternak melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengelolaan dan penyediaan pakan ternak perlu didorong dan dikembangkan. Untuk mewujudkannya Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, bersama Kelompok Ternak Satwa Mulya, Sumberagung, Jetis, Bantul, memanfaatkan teknologi tepat guna tersebut.
Kegiatan yang berlangsung Juni hingga Desember 2026 itu merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Program didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program difokuskan pada peningkatan kapasitas peternak dalam memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bahan pakan sekaligus menerapkan teknologi pengolahan yang sederhana dan sesuai dengan kondisi di tingkat peternak.
Ketua tim pengabdian, Moh. Sofi’ul Anam, Senin (24/8), menerangkan, ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Karena itu, kemampuan peternak mengoptimalkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar perlu terus diperkuat.
Peternak perlu didorong untuk dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di sekitarnya. “Dengan pengolahan yang tepat, bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi bagian dari sumber pakan dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar,” jelasnya.
BIO AMONIASI
Dalam program tersebut, Sofi’ul didampingi Aji Praba Baskara, dan Fatkhanuddin Aziz, sebagai anggota tim pengabdian. Salah satu teknologi yang diperkenalkan ialah bio-amoniasi. Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah bahan pakan berbasis limbah pertanian sehingga kualitas dan pemanfaatannya sebagai pakan ternak dapat ditingkatkan.
Penerapan teknologi dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, hingga praktik langsung bersama anggota kelompok ternak. Pendekatan tersebut dirancang agar peternak tidak sekadar memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman dalam menerapkan teknologi pengolahan pakan.
“Penerapan teknologi di masyarakat harus memperhatikan kemudahan penggunaan, ketersediaan bahan, serta kemampuan peternak untuk mengadopsinya secara mandiri. Teknologi yang diterapkan di masyarakat harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peternak. Karena itu, pendampingan dan praktik langsung menjadi bagian penting agar teknologi yang diperkenalkan benar-benar dapat dipahami dan diterapkan oleh kelompok,” paparnya.
Menurut Sofi’ul, selain pengolahan pakan, pendampingan juga mencakup aspek manajemen usaha dan kesehatan ternak. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam mengelola usaha peternakan secara lebih baik.
Ketua Kelompok Ternak Satwa Mulya, Wedotomo, mengapresiasi pendampingan yang diberikan UGM. Kegiatan tersebut menambah wawasan anggota kelompok, terutama terkait alternatif penyediaan dan pengelolaan pakan dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat kelompok ternak sebagai wadah belajar dan berbagi pengalaman antarpeternak. “Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendampingan diharapkan dapat terus dikembangkan secara mandiri,” ungkapnya.
Melalui program pengabdian ini, UGM berupaya memperkuat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal.
UGM berharap Kelompok Ternak Satwa Mulya mampu mengembangkan sistem penyediaan pakan yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan serta menerapkan teknologi pengolahan sesuai dengan potensi dan kebutuhan kelompok.(E-2)