KENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi salah satu indikator pemicu meningkatnya inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Bahkan dinilai tertinggi di seluruh daerah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal ini dibeberkan Badan Pusat Statistik (BPS) PPU yang merilis data perkembangan inflasi antarwilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Kaltim untuk periode Juni 2026.
Untuk PPU tercatat laju inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai angka 2,71% hingga Juni 2026. Angka itu merupakan inflasi tertinggi atau tercepat di antara wilayah IHK lainnya di Kaltim, seperti kota Balikpapan, Samarinda serta Kabupaten Berau.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten PPU, Krisna Aditama, Senin (6/7), menyatakan, capaian angka tahun kalender ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU untuk terus memperkuat strategi pengendalian harga di pasar.
Akumulasi Laju Inflasi di PPU Tercepat Capai 2,71%
“Akumulasi laju inflasi di PPU memang yang tercepat dengan angka 2,71%, jika kita melihat data kumulatif tahun kalender berjalan dari Desember 2025 hingga Juni 2026. Angka ini mengungguli wilayah cakupan IHK lain di Kaltim seperti Kota Samarinda (2,63%), Kota Balikpapan (2,24%), dan Kabupaten Berau (1,53%),” bebernya.
Krisna mengaku inflasi tahun kalendernya PU tertinggi. Namun inflasi bulanan (month-to-month/mtm) periode Juni 2026 terhadap Mei 2026, wilayah PPU masih relatif terkendali di angka 0,39 persen.
“Angka bulanan ini berada di bawah Kota Balikpapan yang mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,86% dan Kota Samarinda sebesar 0,72%. Kabupaten Berau menjadi wilayah inflasi terendah dengan 0,27%,” sebutnya.
Sedangkan untuk inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Juni 2026 terhadap Juni 2025, lanjutnya, kabupaten PPU mencatatkan angka sebesar 2,96%. Posisi ini berada di bawah Kota Samarinda sebesar 3,53% dan Kabupaten Berau 3,35%. Tetapi sedikit di atas Kota Balikpapan yang mencapai 2,80%.
Sektor Energi dan Bahan Pangan Penyumbang Utama Inflasi Bulanan
Ia menuturkan, adapun komoditas utama yang menjadi andil penyumbang inflasi bulanan di PPU sepanjang bulan Juni. Sektor energi dan bahan pangan masih mendominasi tekanan harga.
“Komoditas utama penahan andil inflasi m-to-m di PPU pada Juni ini dipicu oleh kenaikan harga BBM dengan andil inflasi sebesar 0,23%. Disusul oleh Bawang Merah 0,09%, Minyak Goreng 0,08%, Cabai Rawit 0,08 persen, serta Bahan Bakar Rumah Tangga 0,08%,” urai Krisna.
Sementara itu, tambahnya, di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi, akibatnya mampu meredam laju inflasi yang lebih tinggi di PPU. Dengan komoditas penyumbang andil deflasi terbesar ditempati oleh daging ayam ras dengan andil -0,17%, diikuti semangka -0,09%. Lalu sawi hijau, ikan tongkol, dan tomat masing-masing menyumbang andil deflasi sebesar -0,05%.
Dikatakannya, Pemerintah Kabupaten PPU bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pergerakan harga komoditas pangan dan energi secara berkala, terutama mengantisipasi faktor distribusi logistik di lapangan. Pihaknya akan mengintensifkan operasi pasar murah, pemantauan stok di tingkat distributor.
“Selain itu, kami akan memastikan kelancaran jalur pasokan makanan pokok sehingga daya beli masyarakat PPU tetap terjaga dengan stabil,” pungkasnya. (Z-2)