KEPALA Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pemerintah tengah mematangkan opsi untuk tidak memberikan bantuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak-anak dari keluarga mampu. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi refocusing dan efisiensi agar program tepat sasaran pada kelompok yang membutuhkan intervensi gizi.
Dudung mencontohkan, di sekolah-sekolah tertentu di Jakarta yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga ekonomi mapan, persentase penerima manfaat mungkin hanya akan mencakup sekitar 40 persen dari total siswa. “Artinya kalau misalnya ini tidak perlu, mereka anak-anak orang kaya ya enggak akan dikasih,” ujar Dudung di Gedung KSP, Jakarta, Rabu (10/6).
- Peserta Didik Prasejahtera: Siswa dari keluarga pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau terdaftar dalam DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial).
- Ibu Hamil dan Menyusui: Kelompok prioritas untuk mencegah stunting sejak dini.
- Anak Balita: Fokus pada pemenuhan gizi di masa pertumbuhan emas (1.000 Hari Pertama Kehidupan).
- Sekolah di Wilayah 3T: Institusi pendidikan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang memiliki akses terbatas terhadap pangan bergizi.
- Siswa dengan Indikasi Malnutrisi: Berdasarkan hasil skrining kesehatan berkala oleh Puskesmas atau Badan Gizi Nasional.
Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman melakukan audiensi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang guna membahas evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertemuan yang berlangsung di Kantor KSP, Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (11/6), tersebut menyoroti dua poin krusial: ketepatan sasaran penerima manfaat dan standardisasi operasional dapur.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri dua Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI (Purn.) Trenggono, Dudung menekankan pentingnya refocusing penerima manfaat. Hal ini didasari atas temuan di lapangan yang menunjukkan adanya ketidakefektifan distribusi di beberapa wilayah.
Refocusing Program
Dudung mengungkapkan bahwa berdasarkan pengecekan di lapangan, ditemukan kasus di mana makanan bergizi yang dibagikan di sekolah dengan kalangan ekonomi menengah tidak dikonsumsi secara optimal. Oleh karena itu, KSP dan BGN sepakat untuk melakukan verifikasi dan validasi data ulang. Oleh karena itu, akan ada refocusing program.
“Saya pernah cek, ditemukan beberapa kasus di Jakarta di mana makanan yang dibagikan di sekolah kalangan ekonomi menengah tidak dimakan. Nanti, akan dicek kembali, sehingga (program MBG) betul-betul efektif,” ujar Dudung saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu (10/6). (H-4)