SEDIKITNYA lima orang, termasuk dua pelaku penembakan, tewas akibat insiden penembakan di Pusat Islam San Diego, California, pada Senin (18/5). Aparat penegak hukum menyatakan kasus tersebut sedang diselidiki sebagai dugaan kejahatan kebencian.
Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengatakan tiga korban tewas merupakan warga sipil, sementara dua lainnya adalah tersangka penembakan yang telah dilumpuhkan aparat.
“Yang kami ketahui saat ini adalah ada tiga pria dewasa yang meninggal,” kata Wahl dalam konferensi pers setelah otoritas memastikan ancaman telah dinetralisir.
Ia mengungkapkan salah satu korban yang meninggal merupakan petugas keamanan yang bertugas di pusat Islam tersebut.
Wahl menambahkan bahwa karena lokasi kejadian berada di tempat ibadah, penyelidikan awal mengarah pada dugaan kejahatan kebencian.
“Karena lokasi pusat Islam tersebut, kami menganggap ini sebagai kejahatan kebencian sampai tidak lagi, dan pada titik ini kami akan bekerja sama dengan FBI untuk memastikan bahwa kami menyediakan semua sumber daya yang kami butuhkan untuk penyelidikan ini,” ujarnya.
Ia juga memastikan seluruh anak yang berada di area pusat Islam, termasuk fasilitas sekolah yang berada di kompleks tersebut, berhasil diamankan.
“Semua anak di pusat tersebut aman,” sebutnya.
Insiden bermula ketika aparat menerima laporan mengenai penembakan aktif di fasilitas yang terletak di kawasan Clairemont, dekat blok 7000 Jalan Eckstrom.
Presiden Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa yang sangat memprihatinkan.
“Mereka sedang memberikan pengarahan tentang hal itu dan itu adalah situasi yang mengerikan. Saya telah diberi beberapa informasi awal, tetapi kami akan kembali dan menelitinya dengan sangat cermat,” kata Trump kepada wartawan di White House.
Sangat keterlaluan
Direktur Pusat Islam San Diego, Taha Hassane, menyebut serangan terhadap tempat ibadah sebagai tindakan yang sangat tidak dapat diterima.
“Sangat keterlaluan menargetkan tempat ibadah,” katanya.
Menurut Hassane, komunitasnya belum pernah mengalami tragedi serupa sebelumnya.
“Kami belum pernah mengalami tragedi seperti ini sebelumnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pusat Islam merupakan ruang terbuka untuk kegiatan ibadah, pendidikan, dan dialog lintas agama.
“Orang-orang datang ke pusat Islam untuk berdoa, merayakan, dan belajar, bukan hanya Muslim. Baru pagi ini, sekelompok orang, non-Muslim, datang hanya untuk belajar tentang agama dan budaya kami. Jadi ini adalah sesuatu yang tidak pernah kami duga,” lanjutnya.
Tak lama setelah insiden, pejabat setempat mengonfirmasi adanya sejumlah korban luka, meski jumlah pastinya belum diumumkan.
Wali Kota San Diego, Todd Gloria, meminta warga menghindari lokasi kejadian dan mengikuti arahan aparat keamanan.
“Saya mengetahui situasi penembakan aktif di Pusat Islam San Diego di Clairemont dan terus menerima informasi terbaru dari penegak hukum. Petugas darurat berada di lokasi kejadian dan aktif bekerja untuk melindungi masyarakat dan mengamankan daerah tersebut,” tulisnya di platform X.
Kantor Gubernur Gavin Newsom juga menyatakan telah menerima laporan perkembangan situasi. “Kami berterima kasih kepada petugas tanggap darurat di lokasi kejadian yang bekerja untuk melindungi masyarakat dan mendesak semua orang untuk mengikuti arahan dari pihak berwenang setempat,” demikian pernyataannya.
Sementara itu, Dewan Hubungan Amerika-Islam cabang San Diego turut menyampaikan belasungkawa.
“Semoga Allah menganugerahkan kepadanya tempat tertinggi di Surga dan melindungi semua orang dari bahaya. Tidak seorang pun boleh takut akan keselamatan mereka saat mengikuti salat atau belajar di sekolah dasar,” tulis organisasi tersebut di media sosial X.
Penyelidikan terkait motif penembakan masih terus berlangsung, sementara aparat federal dan lokal terus mengumpulkan bukti untuk memastikan latar belakang insiden tragis tersebut. (Anadolu/Z-2)