PENYERANG andalan Amerika Serikat, Folarin Balogun, secara mengejutkan dipastikan bermain untuk memperkuat tim tuan rumah dalam laga krusial babak 16 besar melawan Belgia di Seattle, Selasa (7/7) WIB. Keputusan kontroversial ini menyusul dugaan intervensi politik tingkat tinggi yang dilakukan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.
Sumber internal yang dihimpun The Guardian mengungkapkan bahwa Trump melakukan aksi diplomasi telepon sebanyak tiga kali kepada jajaran petinggi FIFA sejak Rabu pekan lalu. Trump mendesak badan tertinggi sepak bola dunia itu membatalkan sanksi kartu merah yang diterima Balogun saat laga kontra Bosnia-Herzegovina.
Kehadiran penyerang yang telah mengemas tiga gol dari tiga laga awal ini menjadi suntikan moral masif demi ambisi AS menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak 2002.
Melalui platform Truth Social miliknya, Trump langsung melayangkan apresiasi. “Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dan membatalkan ketidakadilan yang nyata!” tulisnya.
Belgia Protes
Komite Disiplin FIFA berdalih, pembebasan sanksi tersebut bersandar pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Klausul ini mengizinkan penangguhan kartu merah dengan syarat pelanggaran tidak terkait dengan skandal pengaturan skor (match-fixing). Kendati demikian, Balogun tetap berada dalam masa percobaan satu tahun. Jika sang pemain mengulangi pelanggaran serupa, sanksi akumulatif otomatis berlaku.
Langkah FIFA mengaktifkan kembali pasal “mati” ini, yang sebelumnya pernah digunakan untuk menyelamatkan Cristiano Ronaldo, langsung memicu gelombang protes. Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) mengecam keras keputusan tersebut dan menyebutnya cacat hukum karena menabrak statuta baku FIFA terkait sanksi kartu merah otomatis.
“Kami terkejut. Keputusan ini bertentangan dengan prinsip dasar hukum sepak bola. Kami tengah mengkaji seluruh opsi hukum yang memungkinkan,” bunyi pernyataan resmi RBFA.
Kritik tajam juga datang dari juru taktik Belgia, Rudi Garcia. Dengan nada sarkastis, Garcia menyamakan kredibilitas institusi FIFA dengan lelucon April Mop.
“Saya baru tahu kalau di FIFA, tanggal 5 Juli itu sama dengan 1 April. Federasi kami tidak sekadar membela kepentingan tim nasional, melainkan sedang memperjuangkan integritas dan etika sepak bola global yang sedang dipertaruhkan,” cetus Garcia dalam konferensi pers, kemarin.
Di kubu AS, kepastian ini disambut sukacita, meski awalnya sempat diwarnai kebingungan. Bek AS, Chris Richards, menceritakan bahwa para pemain justru pertama kali mengetahui kabar pembatalan sanksi tersebut dari riuh rendah media sosial saat berada di bus tim menuju tempat latihan.
“Awalnya kami ragu karena fenomena kecerdasan buatan (AI) saat ini sering memicu disinformasi. Namun, konfirmasi resmi dari federasi akhirnya membuat kami sangat lega,” tutur Richards.
Pelatih AS, Mauricio Pochettino, turut membela sang pembuat gol utama. Menurutnya, kartu merah langsung yang diberikan wasit akibat insiden benturan Balogun dengan bek Bosnia, Tarik Muharemovic, adalah keputusan yang terlampau keras dan tidak adil.
“Dunia melihat benturan itu sama sekali tidak disengaja. Keputusan FIFA mereduksi hukuman ini adalah kemenangan bagi etika dan sportivitas olahraga,” tegas Pochettino.
Terlepas dari pro dan kontra regulasi yang membayangi, duel sengit di Seattle nanti malam dipastikan kian membara. Bagi AS, kehadiran Balogun adalah berkah; bagi Belgia, ini adalah ketidakadilan yang harus dibalas dengan pembuktian di atas rumput hijau.
(Theguardian/P-4)