DUNIA kedokteran Indonesia tengah menghadapi sebuah ironi besar. Di satu sisi, para dokter ahli asal Tanah Air rutin dipercaya menjadi pengajar dan penguji sertifikasi kompetensi dokter nyeri tingkat dunia di berbagai kota besar seperti Miami, Taipei, Belanda, Budapest, hingga London. Namun di sisi lain, pasien domestik justru masih berbondong-bondong mengantre untuk berobat ke Malaysia hingga Taiwan.
Fenomena ini sangat menonjol pada penanganan nyeri kronis dan muskuloskeletal. Dr. dr. Theresia CT Novy, SpKFR, FIPM, FIPP, CIPS, Pendiri sekaligus Program Director Pain Management Network (PMN), mengungkapkan pengalamannya saat mengajar di Malaysia.
“Dokter-dokter di sana bercerita bahwa mereka sedang menunggu 20 pasien, dan sebagian besar berasal dari Indonesia, dengan biaya yang bahkan lebih mahal di sana. Bahkan, ada pasien dari Jakarta yang rela terbang ke Taiwan hanya untuk mendapatkan terapi Platelet-Rich Plasma (PRP). Ada mindset yang harus diperbaiki bersama bahwa Indonesia itu sebenarnya mampu,” ujar Novy, yang juga aktif sebagai penguji internasional di bawah World Institute of Pain.
Akselerasi Menuju Indonesia Bebas Nyeri 2030

MI/HO
Ketidakmerataan informasi dan terbatasnya jumlah praktisi di daerah membuat jutaan pasien nyeri di Indonesia kerap kebingungan mencari rujukan. Banyak yang belum menyadari bahwa penanganan nyeri bersifat multidisiplin melalui Interventional Pain Management (IPM), yang membutuhkan keahlian khusus di luar kurikulum reguler dokter spesialis.
Menjawab tantangan ini, PMN berkolaborasi dengan Pusat Pengembangan Kedokteran Indonesia (Pusbangki) FKUI untuk melakukan pemerataan edukasi. Langkah ini menjadi fondasi utama mewujudkan visi Indonesia Bebas Nyeri 2030.
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah Dokter Bersertifikasi IPM | Sekitar 50 orang (Mayoritas di kota besar) |
| Metode Pelatihan PMN-FKUI | 3 Bulan Online Intensif + 2-3 Hari Workshop Hands-on |
| Lintas Disiplin Terlibat | Anestesi, Saraf, Rehabilitasi Medik, Bedah Saraf, Orthopedi, Kedokteran Olahraga, Penyakit Dalam |
| Cakupan Peserta Terbaru | 60 Dokter Spesialis (Aceh hingga Manokwari) |
Inovasi Medis: Dari Intervensi Sederhana hingga Sel Punca
Dalam dunia medis modern, penanganan nyeri mengikuti kaidah step ladder (tangga terapi). Dimulai dari rehabilitasi fisik, obat-obatan, tindakan intervensi (IPM), hingga opsi terakhir berupa operasi. Saat ini, Indonesia telah mampu mengaplikasikan inovasi regeneratif mutakhir seperti terapi Sel Punca (Stem Cell).
Dengan panduan teknologi pencitraan tinggi seperti USG atau C-Arm, sel punca disuntikkan secara presisi ke titik kerusakan jaringan (otot, sendi, saraf, atau ligamen). Tujuannya adalah memulihkan sumber kerusakan, bukan sekadar menutupi rasa sakit (masking the pain).
Namun, Novy menekankan pentingnya efisiensi. “Kami mengedukasi dokter untuk memilih instrumen yang tepat. Jika masalah pasien bisa tuntas dengan intervensi sederhana yang efisien, itulah yang didahulukan, tidak perlu langsung melompat ke tindakan bernilai ratusan juta rupiah,” tambahnya.
Harapan Dukungan Pemerintah
Kepala UKK Pusbangki FKUI, Dr. dr. Irzan Nurman, MSc, menekankan pentingnya legitimasi kelembagaan agar pasien bisa mendapatkan layanan medis domestik yang berkualitas tanpa terbebani biaya akomodasi ke luar negeri.
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Senior FKUI, Prof. Dr. dr. Darto Satoto, Sp.An-TI, yang baru saja dianugerahi Lifetime Achievement Award 2026, optimis target 2030 tercapai melalui persatuan antar-disiplin ilmu.
Meski masif, gerakan ini masih menghadapi tantangan besar, di antaranya:
- Belum meratanya keahlian klinis khusus IPM di pelosok.
- Kebutuhan standarisasi sertifikasi kompetensi resmi.
- Regulasi ketat terkait kredensial tindakan intervensi.
PMN dan Pusbangki FKUI berharap Kementerian Kesehatan memberikan dukungan struktural berupa kemudahan akses pendidikan berkelanjutan dan pemberdayaan spesialis nyeri di seluruh wilayah Indonesia agar masyarakat tidak perlu lagi mencari kesembuhan hingga ke mancanegara. (Z-1)